Harapan Penantian

Sebentar lagi Allah akan persatukan kita, bulan tinggal hitung jari kanan.

Namun terbesit di benahku, akankah nyawa ini sampai tanggal tiba?

Berapa waktu yg diberi Sang Pemilik cinta untukku menemanimu?

Dimanakah langkah kaki kita berhenti bersama?

Bisakah ku seperti sayyidati khodijah yg selalu jd penyejuk suaminya, atau sehebat dan sekuat sayyidati Aisyah sebagai penyambung dakwah suaminya, dan sesabar sayyidati Fatimah dlm kesederhanaan hidup bersama suaminy?

Apa pun itu, bagaimana jadinya, semua kulepas dari genggaman. Biarlah kugantung di arsy takdir Allah. Karena kutahu yg melepas dialah yg ikhlas, dan yg ikhlas dialah yg disayang.

Advertisements

Jamaluddin Al Afghani (dan Kontribusinya pada Kebangkitan Dunia Islam)

24 09 2007

Nama panjang beliau adalah Muhammad Jamaluddin Al Afghani, dilahirkan di Asadabad, Afghanistan pada tahun 1254 H/1838 M. Ayahanda beliau bernama Sayyid Safdar al-Husainiyyah, yang nasabnya bertemu dengan Sayyid Ali al-Turmudzi (seorang perawi hadits yang masyhur yang telah lama bermigrasi ke Kabul) juga dengan nasab Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Pada usia 8 tahun Al-Afghani telah memperlihatkan kecerdasan yang luar biasa, beliau tekun mempelajari bahasa Arab, sejarah, matematika, filsafat, fiqh dan ilmu keislaman lainnya. Dan pada usia 18 tahun ia telah menguasai hampir seluruh cabang ilmu pengetahuan meliputi filsafat, hukum, sejarah, kedokteran, astronomi, matematika, dan metafisika. Al-Afghani segera dikenal sebagai profil jenius yang penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan bak ensiklopedia.

Setelah membekali dirinya dengan seluruh cabang ilmu pengetahuan di Timur dan Barat (terutama Paris, Perancis), Al-Afghani mempersiapkan misinya membangkitkan Islam. Pertama-tama ia masuk ke India, negara yang sedang melintasi periode yang kritis dalam sejarahnya. Kebencian kepada kolonialisme yang telah membara dalam dadanya makin berkecamuk ketika Afghani menyaksikan India yang berada dalam tekanan Inggris. Perlawanan terjadi di seluruh India. Afghani turut ambil bagian dari periode yang genting ini, dengan bergabung dalam peperangan kemerdekaan India pada bulan Mei 1857. Namun, Afghani masih sempat pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.

Sepulang dari haji, Afghani pergi ke Kabul. Di kota ini ia disambut oleh penguasa Afghanistan, Dost Muhammad, yang kemudian menganugerahinya posisi penting dalam pemerintahannya. Saat itu, Dost Muhammad sedang mempertahankan kekuasaannya dengan memanfaatkan kaum cendekiawan yang didukung rakyat Afghanistan. Sayang, ketika akhirnya Dost terbunuh dan takhtanya jatuh ke tangan Sher Ali, Afghani diusir dari Kabul.

Meninggalkan Kabul, Afghani berkelana ke Hijjaz untuk melakukan ziarah. Rupanya, efek pengusiran oleh Sher Ali berdampak bagi perjalanan Afghani. Ia tidak diperbolehkan melewati jalur Hijjaz melalui Persia. Ia harus lebih dulu masuk ke India. Pada tahun 1869 Afghani masuk ke India untuk yang kedua kalinya. Ia disambut baik oleh pemerintah India, tetapi tidak diizinkan untuk bertemu dengan para pemimpin India berpengaruh yang berperan dalam revolusi India. Khawatir pengaruh Afghani akan menyebabkan pergolakan rakyat melawan pemerintah kolonial, pemerintah India mengusir Afghani dengan cara mengirimnya ke Terusan Suez yang sedang bergolak.

Di Mesir Afghani melakukan kontak dengan mahasiswa Al-Azhar yang terkagum-kagum dengan wawasan dan ide-idenya. Salah seorang mahasiswa yang kemudian menjadi murid Afghani adalah Muhammad Abduh. Dari Mesir, Afghani pergi ke Istanbul untuk berdakwah. Di ibu kota Turki ini Afghani mendapat sambutan yang luar biasa. Ketika memberi ceramah di Universitas Konstantinopel, salah seorang ulama setempat, Syaikhul Islam, merasa tersaingi. Ia segera menghasut pemerintah Turki untuk mewaspadai gagasan-gagasan Afghani. Buntutnya, Afghani didepak keluar dari Turki. Pada tahun 1871.

Afghani menjejakkan kakinya di Kairo untuk yang kedua kalinya. Di Mesir Afghani melanjutkan dakwahnya yang pernah terputus dan segera mempengaruhi para mahasiswa dan ulama Al-Azhar. Tetapi, pemberontakan kaum nasionalis Mesir pada tahun 1882 berujung pada tindakan deportasi oleh pemerintah Mesir yang mencurigai Afghani ada di belakang pemberontakan.

Afghani dideportasi ke India, tetapi tak lama ia sudah berada dalam perjalanan ke London, kota yang pernah disinggahinya ketika ia berdakwah ke Paris. Di London ia bertemu dengan Muhammad Abduh, muridnya yang ternyata juga dikucilkan oleh pemerintah Mesir.

Dari London, Afghani bertualang ke Moskow. Ia tinggal selama empat tahun di St. Petersburgh. Di sini pengaruh Afghani segera menjalar ke lingkungan intelektual yang dipercaya oleh Tsar Rusia. Salah satu hasil dakwah Afghani kepada mereka adalah keluarnya izin pencetakan Al-Quran ke dalam bahasa Rusia.

Afghani menghabiskan sisa umurnya dengan bertualang keliling Eropa untuk berdakwah. Bapak pembaharu Islam ini memang tak memiliki rintangan bahasa karena ia menguasai enam bahasa dunia (Arab, Inggris, Perancis, Turki, Persia, dan Rusia).

Afghani menghembuskan nafasnya yang terakhir karena kanker yang dideritanya sejak tahun 1896. Beliau pulang keharibaan Allah pada tanggal 9 Maret 1897 di Istambul Turki dan dikubur di sana. Jasadnya dipindahkan ke Afghanistan pada tahun 1944. Ustad Abu Rayyah dalam bukunya “Al-Afghani; Sejarah, Risalah dan Prinsip-prinsipnya”, menyatakan, bahwa Al-Afghani meninggal akibat diracun dan ada pendapat kedua yang menyatakan bahwa ada rencana Sultan untuk membinasakannya.

JURNAL ANTI PENJAJAHAN

Salah satu bukti kejeniusan Jamaluddin Al-Afghani adalah Al-Urwatul Wutsqa, sebuah jurnal anti penjajahan yang diterbitkannya di Paris. Al-Afghani mendapat sokongan seorang ulama Mesir, Muhammad Abduh. Keduanya bersamaan menerbitkan majalah Al-Urwatul Wutsqa di Paris pada tahun 1884 selama tujuh bulan dan mencapai 18 nomor. Publikasi ini bukan saja menggoncang dunia Islam, pun telah menimbulkan kegelisahan dunia Barat. Meskipun majalah ini pada akhirnya tidak mampu mempertahankan penerbitannya oleh bermacam-macam rintangan, nomor-nomor lama telah dicetak ulang berkali-kali. Di mana-mana, terutama untuk pasaran dunia Timur, majalah ini dibinasakan penguasa Inggris. Di Mesir dan India penerbitan ini dilarang untuk diedarkan. Akan tetapi, penerbitan ini terus saja beredar meski dengan jalan gelap. Di Indonesia sendiri majalah ini berhasil masuk tidak melalui pelabuhan besar. Ia berhasil masuk lewat kiriman gelap melalui pelabuhan kecil di pantai utara, antaranya pelabuhan Tuban.

Jurnal ini segera menjadi barometer perlawanan imperialis Dunia Islam yang merekam komentar, opini, dan analisis bukan saja dari tokoh-tokoh Islam dunia, tetapi juga ilmuwan-ilmuwan Barat yang penasaran dan kagum dengan kecemerlangan Afghani. Selama mengurus jurnal ini, Afghani harus bolak-balik Paris-London untuk menjembatani diskusi dan pengiriman tulisan para ilmuwan Barat, terutama yang bermarkas di International Lord Salisbury, London.

 

AL AFGHANI DAN IBNU TAYMIYYAH

Tidak ada perbedaan diantara keduanya, kecuali bahwa Ibnu Taymiyyah (seperti kebanyakan ulama dari generasi awal) lebih banyak berhujjah dengan menggunakan dalil-dalil agama dan pendekatan logika (mantiqy) dalam menegakkan panji/bendera yang dibawanya, seperti yang kita bisa lihat dari karya-karya beliau. Sedangkan Al Afghani lebih kepada pendekatan provokasi (dalam term positif) atau membakar semangat, menyadarkan ummat atas realitas keterpurukan mereka, serta menjalin komunikasi dengan para ulama dan pemimpin kaum Muslimin.

BEBERAPA KONTRIBUSI AL-AFGHANI

Pertama; Perlawanan terhadap kolonial barat yang menjajah negri-negri Islam (terutama terhadap penjajah Inggris). Beliau turut ambil bagian dalam peperangan kemerdekaan India pada bulan Mei 1857, juga mengadakan ziarah ke negri-negri Islam yang berada di bawah tekanan imperialis dan kolonialis barat seperti tersebut di atas.

Kedua; upaya melawan pemikiran naturalisme di India, yang mengingkari adanya hakikat ketuhanan. Menurutnya, dasar aliran ini merupakan hawa nafsu yang menggelora dan hanya sebatas egoisme sesaat yang berlebihan tanpa mempertimbangkan kepentingan umat manusia secara keseluruhan.

Hal ini dikarenakan adanya pengingkaran terhadap hakikat Tuhan dan anggapan bahwa materi mampu membuka pintu lebar-lebar bagi terhapusnya kewajiban manusia sebagai hamba Tuhan. Dari situlah Al-Afghani berusaha menghancurkan pemikiran ini dengan menunjukkan bahwa agama mampu memperbaiki kehidupan masyarakat dengan syariat dan ajaran-ajarannya.

Wallahu A’lam Bish-Shawab…

Disusun oleh: Azmi M. Haqqy (dari berbagai sumber).

 

Afghani ke Eropa dan merintis Al Urwatul Wutsqa
Afghani kemudian ke Eropa dan disana ia  menuju ke Paris yang saat itu baru saja merasakan iklim kebebasan setelah suksesnya revolusi Perancis dan jebolnya penjara Bastille lambang kezaliman. Di Paris inilah Afghani memanfaatkan iklim kebebasan dengan mendirikan lembaga Al Urwatul Wutsqa yang menerbitkan majalah bernama Al Urwatul Wutsqa dan mengajak kepada kaum muslimin untuk bersatu di bawah panji khilafah islamiyyah. Karena faktor tekanan dari penjajah Inggris, majalah tersebut hanya terbit kurang dari 12 bulan . Majalah Al Urwatul Wutsqa ini dilarang keras untuk masuk Mesir, India, dan Sudan dan semua ini karena tekanan dari Inggris.

Perdebatan seputar Al urwatul wutsqa
Beberapa ide dan gagasan yang dilontarkan Jamaluddin Al aghani  dalam majalah Al urwatul wutsqu sempat menjadi perdebatan panjang diantara para pengamat sejarah apakah tulisan-tulisan tersebut adalah pemikiran Afghani atau pemikiran Muhammad Abduh, sebagaimana yang kita ketahui bahwa hubungan antara keduanya sebagai seorang guru dan murid sangat dekat sekali lebih-lebih ketika keduanya bertemu di Paris tahun 1884 dean bersama mendirikan Jamiyyah urwatul wutsqa  yang pada akhirnya memberikan amanat kepada Afghani untuk menerbitkan majalah yang bercorak politik, sosial dan keagamaan. Namun beberapa bukti dan fakta mengungkapkan bahwa tulisan-tulsan tersebut adalah ide dari seorang Afghani berdasarkan alasan berikut ini :
1. 18 edisinya yang terbit di Paris 13 maret 1884 sampai 17 oktober 1884 berisi tentang rencana pembentukan gerakan rahasia yang rencananya akan tersebar ke seluruh penjuru dunia yang bertujuan untuk membaskan bangsa-bangsa timur dari belenggu penjajah Inggris ( saat itu Inggris menguasai Mesir, India, dan lainnya ). Ini menunjukkan bahwa ide dari gerakan ini diotaki aleh satu orang yaitu Jamaluddin Al Afghani dan kecil kemungkinan Muhammad Abduh berada dibalik ide dan gagasan yang revolusioner ini
2. Pengakuan Muhamad Abduh sendiri bahwa tulisan tulisan di Al urwatul Wutsqo adalah ide Afghani, sedangkan peran Abduh hanyalah sebagai peneliti tulisan tersebut dan mengeditnya dan bahkan Afghanilah yang menyuruh Muhammad Abduh untuk menjadi pemimpin redaksi majalah tersebut.
3. Semenjak kegagalan revolusi Orabi, Abduh kembali kepada pendapatnya semula bahwa untuk melawan penjajah tidak bisa dengan melakukan revolusi secepat itu melainkan dengan cara pelan-pelan yaitu dengan cara membenahi pendidikan dan pengajaran yang saat itu sangat lemah. Abduh berpendapat bahwa akar ketertindasan umat karena kebodohan mereka selama ini sehingga memudahkan penjajah untuk bertindak seenaknya di tanah air mereka. Rasulullah sendiri ketika melihat banyak kaum muslimin yang masih belum bisa baca tulis mewajibkan kepada tiap tawanan perang Badar untuk mengajar baca tulis kepada 10 pemuda-pemuda islam saat itu. Revolusi Orabi sendiri berakhir dengan kekalahan Mesir dan duduknya Inggris sebagai penjajah. Tapi hal ini berbeda dengan Afghani yang menganggap bahwa revolusi adalah cara yang ampuh untuk menghentikan tirani penjajah.
4. Muhammad Abduh sejak awal sebenarnya sangat tidak bersemangat untuk melakukan revolusi bersama Afghani. Itulah mengapa ketika revolusi Orabi gagal Abduh kembali ke Beirut tahun 1885 untuk mempraktekan gagasannya untuk mereformasi pendidikan dan pengajaran umat.
5. Tuduhan bahwa Afghani tidak mahir dalam berbahasa Arab sehingga menyerahkan tugas penyerasian bahasa  kepada Abduh adalah tidak benar, bukankah sejak kecil Afghani telah mendalami ilmu bahasa Arab sehingga ia termasuk orang yang jenius dan diperhitungkan di bidang ini, kalau toh Afghani menyuruh abduh untuk meneliti tulisan dan mengeditnya itu bukan hal yang aneh, karena sebagai seorang guru Afghani berhak memerintahkan kepada muridnya apa saja selama tidak bertentangan dengan syariat.
6. Selama penerbitan majalah ini Abduh sering tidak menetap ke Paris, tapi ia sering berpindah –pindah tempat. Jadi majalah ini tetap terbit meski tanpa kehadiran Abduh.
7. Afghani jarang menuliskan ide-idenya langsung kedalam buku melainkan ia sampaikan lewat ceramah-ceramah yang ia ajarkan langsung di depan murid-muridya, sehingga tak salah kalau Abduh sebagai muridnya mengabadikan ide Afghani dalam catatan pribadinya. Ini tak beda ketika Muhammad Rasyid Ridla yang notabene sebagai murid kesayangan Abduh selalu mencatat pelajaran tafsir yang diajarkan Abduh sehingga  tafsir yang kita  kenal dengan tafsir Al manar sebenarnya adalah penafsiran Muhammad Abduh yang dibukukan Rasyid Ridla,  meski tak bisa dipungkiri banyak pemahaman dari Rasyid Ridla yang masuk ke dalam tafsir tersebut. Dari Paris Afghani menuju ke London untuk membahas soal revolusi Al Mahdi di Sudan tapi tidak mencapai kata sepakat. Disini Afghani dirayu oleh syah Iran untuk ikut dalam membantu penjajah Inggris memadamkan revolusi Al Mahdi dan di imingi dengan jabatan namun Afghani sebagai pejuang umat tidak begitu saja takluk dengan rayuan ini.

Afghani menuju ke Iran
Pada tahun 1303 H Afgani lalu kembali menuju Iran lagi.Di Iran Ini Afghani mengajak kepada syah Iran untuk melakuan reformasi sosial dan memberlakukan sistem parlemen.  Afghani lalu ke Inggris dan mengecam habis Sah Iran dalam koran Dliyaul Khafiqin.

Sesederhana Hidupmu dan Hidupku

Adakalanya aku dan kamu di posisi yang sama. Saat kita sama-sama berjuang untuk hidup, bekerja untuk bahagia, dan berlari untuk menggapai yang diinginkan.

Adakalanya juga kita tidak sejajar karena tuntutan. Memasang topeng di hadapan  manusia lainnya sambil tersenyum, menangis, atau bahkan menyinyir.

Kita tidak perlu munafik. Kamu sama denganku. Sama-sama merasa diri benar sendiri, memandang segalanya dengan sudut pandang masing-masing, dan mempromosikan diri yang terbaik di hadapan para petinggi.

Hanya saja, Perbedaanku dan kamu sangat jelas. Tuhan dan manusia juga melihatnya, bahwa yang paling semangat hidup, paling banyak bekerja, dan paling cepat berlari dialah yang menang.

Hidup itu sederhana. Sesederhana kamu menyikapi orang lain dan realita hidup.

Bertapa Tengah Malam

Air di pipa-pipa pinggir selokan mengalir

Menghasilkan suara klasik

Makin malam makin mengecil suaranya

Kunikmati tiap tetes air yang bersatu pada kawannya yang lain

Tapi kutak bisa

Karena mata yang terpejam hanya pura-pura

Di sanalah kau lukis cita-cita baru dalam hidupku

Terlihat warna lukisan yang kau buat memudar

Mungkin karena aku lelah duduk menanti

Menutup mata lahir sambil kerutkan dahi

Lewat waktu jam dinding dan tanggal kalender berganti

Gintung, 29 Mei 2016

24.15